Iaintulungagung.ac.id – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) memanfaatkan momentum Hari Pustakawan Indonesia 2026 untuk memperkenalkan jenama baru: pustakawan sepanjang hayat. Penegasan ini ditempatkan sebagai usaha memperkuat citra pustakawan bukan hanya sebagai pengelola koleksi, tetapi juga sebagai pemelajar yang terus berkembang.

Melalui langkah tersebut, Perpusnas menekankan peran pustakawan sebagai penggerak literasi, penjaga pengetahuan, sekaligus agen pembelajaran sepanjang hayat di tengah percepatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI). Perkenalan jenama ini dimaksudkan untuk menegaskan relevansi peran pustakawan di era perubahan cepat.
Makna jenama baru bagi profesi pustakawan
Pengenalan jenama “pustakawan sepanjang hayat” bertujuan menggambarkan perubahan identitas profesi yang lebih dinamis. Konsep ini menempatkan pustakawan sebagai pihak yang terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan informasi, metode kerja, hingga teknologi baru yang memengaruhi layanan perpustakaan.
Dengan identitas baru tersebut, Perpusnas ingin menonjolkan fungsi pustakawan tidak hanya dalam mengelola koleksi, tetapi juga dalam memfasilitasi masyarakat untuk mengakses ilmu dan keterampilan baru. Penekanan pada pembelajaran sepanjang hayat juga menunjukkan upaya memperluas peran pustakawan dalam kegiatan pendidikan nonformal dan peningkatan kapasitas pengguna perpustakaan.
Relevansi peran di tengah perkembangan ilmu dan AI
Perpusnas menyebut perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kecerdasan buatan sebagai latar yang memperkuat kebutuhan akan pustakawan yang adaptif. Dalam konteks ini, pustakawan diharapkan mampu memahami implikasi teknologi terhadap pengelolaan informasi, serta membantu publik menavigasi sumber pengetahuan yang semakin kompleks.
Perubahan teknologi membuka peluang sekaligus tantangan bagi layanan perpustakaan. Sementara teknologi dapat memperluas akses ke informasi, kebutuhan untuk memastikan kualitas, keterpercayaan, dan etika penggunaan informasi menjadi lebih besar. Identitas “pustakawan sepanjang hayat” memberi ruang bagi pustakawan untuk mengambil peran aktif dalam aspek-aspek tersebut.
Implikasi untuk layanan dan pengembangan sumber daya
Pengenalan jenama juga membawa implikasi bagi pengembangan layanan dan sumber daya manusia di lingkungan perpustakaan. Fokus pada pembelajaran berkelanjutan menuntut adanya peningkatan kapasitas pustakawan, baik dari segi kompetensi literasi informasi, pemahaman terhadap teknologi, maupun keterampilan pedagogis untuk mendampingi pembelajar dari berbagai usia.
Meski demikian, langkah memperkenalkan identitas baru itu tidak serta merta menjabarkan program atau kebijakan spesifik. Yang dipertegas adalah garis besar visi: bahwa pustakawan tetap relevan dan perlu terus berkembang agar dapat memenuhi peran sebagai penjaga pengetahuan dan fasilitator literasi pada masyarakat yang menghadapi perubahan cepat.
Perkenalan jenama ini berlangsung pada peringatan Hari Pustakawan Indonesia 2026 dan mencerminkan upaya kebijakan untuk menegaskan peran strategis perpustakaan dalam ekosistem pendidikan dan informasi nasional. Ke depan, fokus akan bergeser pada bagaimana jenama tersebut diterjemahkan ke dalam praktik layanan, pelatihan, dan kolaborasi yang konkret.
Dengan menetapkan pustakawan sebagai pemelajar sepanjang hayat, Perpusnas memberi sinyal bahwa profesi ini harus terus menyesuaikan diri agar tetap efektif melayani masyarakat di era digital dan ilmu pengetahuan yang bergerak cepat.
