Iaintulungagung.ac.id – Mahasiswa ITN juga telah mengembangkan mesin penyortir beras otomatis yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas beras yang beredar di pasaran.
Dalam era teknologi yang terus berkembang, mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil menorehkan prestasi baru dengan menciptakan alat-alat berteknologi canggih yang menjawab kebutuhan industri pangan. Tak hanya berfokus pada teori semata, mahasiswa program studi Teknik Industri S-1 ini membuktikan bahwa praktik nyata di lapangan mampu menghadirkan solusi bagi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat.
Inovasi Mahasiswa ITN dalam Industri Pangan
Cerita ini berawal dari sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam proyek pengembangan alat pencetak kerupuk dan penyortir beras otomatis. Mereka melihat peluang besar dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri pangan dengan memperkenalkan teknologi tepat guna. Alat pencetak kerupuk, misalnya, di rancang untuk meningkatkan kapasitas produksi usaha kecil dan menengah. Yang selama ini kerap terkendala oleh keterbatasan tenaga kerja dan waktu.
Efisiensi dalam Produksi Kerupuk
Mesin pencetak kerupuk ini di harapkan dapat mempercepat proses produksi. Mengurangi kesalahan manual, serta meningkatkan kualitas produk secara keseluruhan. Dengan desain yang ergonomis dan sederhana, mesin ini mudah di operasikan oleh tenaga kerja yang mungkin belum terbiasa dengan teknologi tinggi. Bahkan, para mahasiswa juga menekankan pentingnya pemeliharaan yang minim, membuat mesin ini menjadi pilihan yang ekonomis bagi usaha-usaha rumahan dan skala kecil.
Pemanfaatan Teknologi pada Penyortiran Beras
Di samping alat pencetak kerupuk, mahasiswa ITN juga telah mengembangkan mesin penyortir beras otomatis yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas beras yang beredar di pasaran. Penyortiran manual sering kali memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan manusia. Dengan adanya mesin ini, proses penyortiran beras dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.
Menjaga Kualitas Pertanian Lewat Inovasi
Mesin penyortir beras ini memanfaatkan teknologi terkini untuk mendeteksi perbedaan warna dan ukuran beras secara otomatis. Teknologi serupa sebenarnya sudah ada di industri besar. Tetapi dengan inovasi ini, diharapkan usaha-usaha menengah dan kecil dapat turut berkompetisi dalam pasar yang lebih luas. Ini tentunya menjadi angin segar bagi petani lokal yang dapat melihat harga jual komoditas mereka meningkat berkat kualitas produk yang lebih baik.
Tambahnya Lapangan Kerja dan Peluang Baru
Penerapan alat-alat ini di industri pangan tentunya juga berdampak langsung pada penambahan lapangan kerja, khususnya di sektor operasional dan pemeliharaan. Selain itu, tingkat produksi yang meningkat dapat membuka peluang ekspansi bisnis ke pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional. Hal ini memberikan peluang kepada mahasiswa untuk tidak hanya belajar, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi lokal dan nasional.
Kesuksesan proyek ini membuktikan bahwa inovasi yang lahir dari perguruan tinggi berpotensi menjadi solusi nyata bagi permasalahan industri yang ada. Dengan kerjasama antara akademisi, sektor industri, dan pemerintah, potensi ini dapat berkembang lebih jauh. Dukungan berupa permodalan, pelatihan, dan pemasaran perlu terus di giatkan agar inovasi-inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai proyek mahasiswa semata. Tetapi juga diimplementasikan secara luas di masyarakat.
Kesimpulannya, langkah mahasiswa ITN Malang dalam menciptakan alat pencetak kerupuk dan penyortir beras otomatis merupakan contoh nyata bagaimana dunia pendidikan dapat bersinergi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Inovasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya sebagai pembelajar, tetapi juga pelaku utama dalam perubahan yang positif. Dengan demikian, masa depan industri pangan Indonesia tampak semakin cerah dengan hadirnya teknologi yang adaptif dan solutif ini.
