Keputusan terbaru untuk memasukkan kata ‘kapitil’ ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan mengganti ejaan ‘Thailand’ dengan ‘Tailan’ menuai beragam reaksi. Perubahan ini menyoroti ketegangan antara ejaan resmi dan bahasa sehari-hari yang akrab di telinga publik. Menariknya, ketidakpuasan banyak muncul dari perasaan bahwa bahasa baku sering kali tidak sesuai dengan perkembangan dinamis bahasa yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Transformasi Bahasa dan Dinamika Sosial
Bahasa adalah entitas hidup yang terus berkembang. Masyarakat berperan besar dalam pembentukan dan pembaruan bahasa dari generasi ke generasi. KBBI sebagai acuan resmi memiliki tanggung jawab untuk mencerminkan dinamika ini dalam pembaruan kosakata mereka. Namun, seringkali muncul pertanyaan, sejauh mana KBBI harus mengakomodasi perubahan bahasa sehari-hari tanpa kehilangan kedisiplinannya sebagai standar akademis?
Perspektif Sejarah dan Perubahan Linguistik
Seluruh bahasa di dunia mengalami semacam evolusi linguistik. Sejarah menunjukkan bagaimana kata-kata dapat bermetamorfosis sejalan dengan perubahan budaya dan teknologi. Di Indonesia, fenomena ini bukan hal baru. Sebelumnya, beberapa penambahan kata dan penyederhanaan ejaan pernah memicu debat publik. Oleh karena itu, pembaruan terhadap kosakata seperti ‘kapitil’ sebenarnya hanyalah lanjutan dari siklus panjang tersebut, meskipun seringkali memicu diskusi yang cukup hangat.
Kapitil dan Tailan: Mengapa Reaksi?
Menyoal perubahan ejaan ‘Tailan’, banyak pihak merasa bahwa langkah itu dirasa tidak perlu dan bisa mengaburkan hubungan budaya serta sejarah dengan masyarakat Thailand. Ketidakpuasan ini mungkin lebih bersifat psikologis daripada linguistik. Ketika sesuatu yang familiar mengalami perubahan, ada rasa tidak nyaman. ‘Kapitil’, meskipun lebih mendekati pelafalan sehari-hari, dianggap memicu pertanyaan tentang otoritas dan bagaimana keputusan tersebut diambil.
Mengapa Publik Berpihak pada Tradisi Ejaan
Kecenderungan untuk mempertahankan ejaan sesuai tradisi sebagian besar berakar pada edukasi dan kebiasaan. Sistem pendidikan di Indonesia menanamkan aturan bahasa baku sebagai standar yang harus diikuti. Hal ini menimbulkan pandangan bahwa adanya pergeseran terhadap aturan baku menandakan pengabaian terhadap standar yang sudah dibangun sulit-sulit. Sebuah dilema antara pelestarian warisan linguistik dan adaptasi terhadap realitas sosial yang ada.
Mengelola Kontroversi: Peran Otoritas Bahasa
Sebagai institusi yang berperan mengatur penggunaan bahasa, para otoritas harus melakukan sosialisasi yang efektif mengenai alasan di balik penyertaan kata baru atau perubahan ejaan. Transparansi proses serta keterlibatan akademisi, budayawan, dan masyarakat umum dalam setiap pembaruan bisa mendorong penerimaan yang lebih baik. Diskursus terbuka mengenai evolusi bahasa perlu diseimbangkan dengan pemahaman tentang keelokan dan fungsionalitas bahasa tersebut.
Menyambut Pembaruan dengan Bijaksana
Ketika KBBI melakukan pembaruan, penting untuk melihatnya sebagai refleksi dari kenyataan sosial dan kebutuhan komunikasi masyarakat yang dinamis. Lebih dari sekadar buku aturan kaku, KBBI seharusnya menjadi cermin yang menggambarkan keberagaman dan keragaman evolusi bahasa Indonesia. Dengan demikian, pembaruan harus diterima dengan bijaksana, mencari titik temu antara tradisi dan inovasi.
Kesimpulan yang perlu diambil adalah bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga simbol identitas budaya dan sejarah. Dalam setiap perubahan yang terjadi, pertimbangan mendalam mengenai dampaknya terhadap aspek-aspek ini sangat diperlukan. Sebagai masyarakat yang menghargai bahasa sebagai identitas kolektif, kita perlu memastikan bahwa setiap pembaruan bahasa menjaga keseimbangan antara adaptasi modern dan pelestarian tradisional.
